Sosiologi Minggu-6: Bentuk Asosiatif Interaksi Sosial

 

Toleransi




Toleransi adalah bentuk akomodasi tanpa adanya persetujuan resmi karena tanpa disadari dan direncakanan, adanya keinginan untuk menghindarkan diri dari perselisihan yang saling merugikan. Toleransi disini melibatkan penerimaan pihak satu dengan pihak lainnya dengan keadaan tertentu.

Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat hindu yang dirayakan pada di setiap tahun baru saka. Nyepi atau "day of silence" berasal dari kata sepi (sunyi). Tidak seperti perayaan tahun baru pada umumnya, perayaan ini selalu diperingati dengan "menyepi" dimana semua aktivitas ditiadakan dan dihentikan.

perlu kalian tahu nih, sebelum perayaan Nyepi dimulai, biasanya masyarakat membuat ogoh-ogoh sebagai simbol perwujudan Bhuta Kala atau roh jahat yang suka mengganggu manusia. Bukan dari umat hindu saja yang membuat ogoh-ogoh, tetapi warga yang beragama selain Hindu juga turut terlibat. Keterlibatan masyarakat yang bukan Hindu ini menjadi fakta menarik, karena rasa solidaritas antar sesama. 

Tepat di malam harinya, dimana pawai ogoh-ogoh dilaksanakan. Masyarakat berkumpul di satu tempat dan ikut melihat pawai tersebut dengan bersorak gembira. Mereka terlihat asik merayakan pawai ogoh-ogoh. Setelah menyaksikan pawai tersebut, beberapa umat Hindu melakukan pembakaran terhadap ogoh-ogoh. Fungsinya apa sih? yaitu untuk memusnahkan roh-roh jahat yang ingin mengganggu manusia.

Pembakaran ogoh-ogoh pun tidak berlangsung lama. Setelah itu, masyarakat pulang ke rumahnya masing-masing dan berdiam diri di rumah tanpa cahaya. Itu merupakan bentuk toleransi umat selain Hindu terhadap perayaan Hari Raya Nyepi. Tidak hanya itu saja, bentuk toleransi lainnya seperti : 

  1. Amati Geni, Dilarang menyalakan api/lampu termasuk api nafsu yang mengandung makna pengendalian diri dari segala bentuk angkara murka.
  2. Amati Karya, Dilarang melakukan kegiatan fisik/ kerja dan lebih untuk penyucian diri.
  3. Amati Lelungan, Dilarang bepergian keluar rumah.
  4. Amati Lelanguan, Dilarang mengadakan hiburan/rekreasi yang bertujuan untuk bersenang-senang.

Dapat diambil kesimpulan artikel diatas, bahwa sikap toleransi disini sebagai bentuk interaksi sosial dengan kontak sosial langsung. Mereka saling merangkul satu sama lain, menghargai dan menghormati. Apapun agama mereka, budaya , ras , suku ,atau antar golongan, masyarakat disana tetap menjaga kenyamanan dan ketentraman di dalamnya. Selain itu, hal ini menjadi suatu contoh yang patut kita tiru, karena mereka meminimalisir perpecahan atau pertikaian agar tidak menimbulkan konflik antarumat beragama

Komentar

Postingan Populer