Barong Landung- Akulturasi kebudayaan
Barong Landung – akulturasi hindu china
Tradisi adalah kebiasaan atau sesuatu yang telah diterapkan sejak lama dan terus menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat yang sering dipraktikkan oleh suatu negara, budaya, waktu atau agama itu sendiri.
Budaya dan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang kita, jika dilestarikan hingga saat ini tentu akan menjadi tradisi yang unik, seperti yang kita temui sekarang, termasuk di Bali. Budaya dan tradisi tersebut biasanya membuat warga asing serta warga lokal merasa tertarik dengan kebudayaan tersebut.
Bicara tentang Bali, senantiasa aktivitas keagamaan masyarakat Bali berhubungan dengan seni tari Bali memiliki banyak jenis tari-tarian. Tari barong banyak dijumpai di Bali dengan beberapa jenisnya, salah satunya Barong Landung yang merupakan perwujudan manusia atau raksasa.
Barong Landung yang merupakan perwujudan manusia atau raksasa. Inilah kemudian oleh masyarakat Bali dimaknai sebagai suatu kekuatan yang diyakini memberikan keselamatan
Barong Landung adalah sepasang boneka manusia raksasa setinggi hampir tiga meter hasil akulturasi kebudayaan peradaban bali dan Tiongkok. Satu sosok adalah seorang pria berwajah hitam, dan satunya lagi adalah seorang putri cantik berwajah putih.
Barong Landung dipercaya sebagai replika raja Jayapangus dan istrinya Kang Cing Wie dari Tiongkok. Akulturasi kebudayaan ini, secara lisan dan tertulis dalam Babad Bali. Terdapat pura balingkang ayitu, yaitu tempat suci yang berkaitan dengan peristiwa pernikahan Raja Jayapangus dengan istrinya.
Kisah Raja Sri Jaya Pangus dengan ratu Kang Cing Wie, yang berasal dari negeri Tiongkok. Setelah pernikahan yang panjang mereka masih belum memiliki anak. Setelah diizinkan oleh Kang Cing Wie, Raja Jaya Pangus memutuskan untuk melakukan meditasi ke Gunung Batur. Dalam perjalanannya ia bertemu seorang putri yang sangat cantik, Dewi Danu. Raja Jaya Pangus berbohong kepada Dewi Danu, dan mengatakan bahwa dia belum menikah. Akhirnya mereka menikah, dan seorang putra lahir, bernama Mayadenawa. Untuk waktu yang lama Jaya Pangus tidak kembali ke rumah, maka Kang Ching Wie mengikuti dan menggeledahnya ke Gunung Batur. Setelah tiba, Kang Cing Wie melihat Jaya Pangus bersama istri baru dan seorang putra. Dewi Danu juga terkejut dan menyadari bahwa suaminya kelihatannya berbohong. Dewi Danu melaporkan hal ini kepada ibunya, Betari Danu. Dalam kemarahan, dengan kekuatan sihirnya dia membakar Jaya Pangus dan istrinya Kang Cing Wie. Kerajaan berduka atas kematian raja dan ratu mereka, sehingga sebagai bentuk pengabdian dan cinta untuk raja dan ratu, orang-orang membuat replika patung Jaya Pangus dan Kang Cing Wie (dikenal sebagai Barong Landung) dan beribadah.
Refrensi:
Legenda Barong Landung, Percampuran Budaya Bali dan China (bolong.id)
Macam-macam Budaya dan Tradisi Unik di Bali serta penjelasan (balitoursclub.net)


Komentar
Posting Komentar